Update tentang islam dari beberapa penulis blog.

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) - Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1)

๐Ÿ“† Selasa,  5 Rajab 1437H / 12 April 2016

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu'man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹ Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) - Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1)
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits ke 12:

                Pada hadits ke 12 ini, Al Hafizh Ibnu Hajar menuliskan:

ูˆَุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ  ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚َุงู„َ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงَู„ู„َّู‡ِ  ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…  ุทَู‡ُูˆุฑُ ุฅِู†َุงุกِ ุฃَุญَุฏِูƒُู…ْ ุฅِุฐْ ูˆَู„َุบَ ูِูŠู‡ِ ุงَู„ْูƒَู„ْุจُ ุฃَู†ْ ูŠَุบْุณِู„َู‡ُ ุณَุจْุนَ ู…َุฑَّุงุชٍ, ุฃُูˆู„َุงู‡ُู†َّ ุจِุงู„ุชُّุฑَุงุจِ - ุฃَุฎْุฑَุฌَู‡ُ ู…ُุณْู„ِู…ٌ

ูˆَูِูŠ ู„َูْุธٍ ู„َู‡ُ:   ูَู„ْูŠُุฑِู‚ْู‡ُ  .

ูˆَู„ِู„ุชِّุฑْู…ِุฐِูŠِّ:  ุฃُุฎْุฑَุงู‡ُู†َّ, ุฃَูˆْ ุฃُูˆู„َุงู‡ُู†َّ ุจِุงู„ุชُّุฑَุงุจِ                                                      


๐Ÿ“Œ            Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu dia berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sucinya bejana kalian ketika seekor anjing walagha (menjilat) di dalamnya adalah dengan cara mencucinya tujuh kali, yang pertamanya adalah dengan tanah.” (HR. Muslim)


            Pada lafazhnya yang lain: “maka hendaknya dibuang airnya.”

            Pada riwayat Imam At Tirmidzi: “yang  akhir atau yang pertamanya adalah dengan tanah.”


๐Ÿ“šTakhrij Hadits:


๐Ÿ”น-    Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitabul Wudhu Bab Al Ma’il Ladzi Yughsalu bihi Sya’arul Insan, No. 172, dengan lafaz: Idzasyariba Al kalbu ........... (Jika seekor anjing minum), tanpa menyebut dicampur dengan tanah.

๐Ÿ”น-          Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitabuth Thaharah Bab Hukmi Wulughil Kalbi  No. (279) (91) dan (279) (89), dengan lafazh:“hendaknya dibuang airnya.” Taqdim: Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi. Lafaz hadits di atas adalah menurut lafaz Imam Muslim dalam Shahihnya.

๐Ÿ”น-          Imam At Tirmidzi dalam Sunannya,Kitabuth Thaharah Bab Maa Ja’a fi Su’ril Kalbi No. 91, katanya: hasan shahih

๐Ÿ”น-          Imam Abu Daud dalam Sunannya,Kitabuth Thaharah Bab Al Wudhu bi Su’ril Kalbi, No. 71

๐Ÿ”น-          Imam An Nasa’i dalam Sunannya,Kitabul Kiyah Bab Su’ril Kalbi No.  64, jugaBab Ta’firil Inaa bit Turab min Wulughil Kalbi fiih, No. 338, 339

๐Ÿ”น-          Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya,Kitabuth Thaharah Bab Wulughil Kalbi fil Inaa, 1/64

๐Ÿ”น-          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shughra, Bab Ghuslil Ina min Wulughil Kalbi,  No.  176, liat juga No. 1102

๐Ÿ”น-          Dll


๐Ÿ“šStatus Hadits:  

            Hadits ini shahih, dimasukkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya masing-masing.


๐Ÿ“šKandungan dan Faidah Hadits:


               Hadits ini memiliki banyak pelajaran, di antaranya:


๐Ÿ“‹1⃣ .Pada lafaz hadits di atas – riwayat Imam Muslim- menggunakan kata ูˆَู„َุบَ  - walagha(menjilat), sementara pada riwayat Imam Bukhari menggunakan lafaz  ุดَุฑِุจَ – syariba (minum). Apa perbedaannya?


Berkata Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim Rahimahullah:


ูˆูุฑู‚ ุจูŠู† (ุดุฑุจ، ูˆูˆู„ุบ) ูุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูŠู‚ูˆู„: ุงู„ุดุฑุจ ู„ุบูŠุฑ ุงู„ูƒู„ุงุจ ูˆุงู„ุณุจุงุน، ูˆู‡ูˆ ุฃู† ูŠุนุจ ุงู„ู…ุงุก ุนุจุงً، ูˆุงู„ูˆู„ูˆุบ: ู‡ูˆ ุฃู† ูŠุชู†ุงูˆู„ ุงู„ู…ุงุก ุจุทุฑู ู„ุณุงู†ู‡

๐Ÿ“Œ             Perbedaan antara syariba dan walagha, sebagian ulama mengatakan: asy syurbu (minum) adalah untuk selain anjing dan selain hewan buas, dan meminum air dengan sekali teguk, sedangkan al wulugh artinya meminum air dengan ujung lidah.  (Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim, Syarh Bulugh Al Maram, 3/5)


            Jadi, anjing minum dengan cara menjulurkan ujung lidahnya ke air, maka itu tidak ubahnya seperti menjilat. Sehingga tidak ada pertentangan berarti antara walagha dan syariba, keduanya sama-sama minum, yang berbeda hanya cara minumnya.


              Syaikh ‘Athiyah Rahimahullah berkata:


ูุงู„ูˆู„ูˆุบ: ู‡ูˆ ุชู†ุงูˆู„ ุงู„ูƒู„ุจ ุจุทุฑู ู„ุณุงู†ู‡ ู„ู„ุณุงุฆู„ ุงู„ุฐูŠ ููŠ ุงู„ุฅู†ุงุก، ูˆู‡ุฐู‡ ุทุจูŠุนุชู‡، ูˆุงู„ุดุฑุจ ุฃุนู…

๐Ÿ“Œ              Maka, Al Wulugh adalah cara minumnya anjing dengan ujung lidahnya untuk mengalir air yang ada pada air, dan ini adalah caranya yang natural, ada pun minum maknanya lebih umum.


              Lalu Beliau juga melanjutkan:


ุฅุฐุงً: ูˆู„ุบ ูˆุดุฑุจ ู„ูŠุณ ุจูŠู†ู‡ู…ุง ุชุนุงุฑุถ

๐Ÿ“Œ              Jadi, walagha dan syariba di antara keduanya tidak ada pertentangan. (Ibid)


              Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan tentang walagha:

ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ْู…َุนْุฑُูˆู ูِูŠ ุงู„ู„ُّุบَุฉ ، ูŠُู‚َุงู„ ูˆَู„َุบَ ูŠَู„َุบ - ุจِุงู„ْูَุชْุญِ ูِูŠู‡ِู…َุง - ุฅِุฐَุง ุดَุฑِุจَ ุจِุทَุฑَูِ ู„ِุณَุงู†ู‡ ، ุฃَูˆْ ุฃَุฏْุฎَู„َ ู„ِุณَุงู†ู‡ ูِูŠู‡ِ ูَุญَุฑَّูƒَู‡ُ ، ูˆَู‚َุงู„َ ุซَุนْู„َุจ : ู‡ُูˆَ ุฃَู†ْ ูŠُุฏْุฎِู„ ู„ِุณَุงู†ู‡ ูِูŠ ุงู„ْู…َุงุก ูˆَุบَูŠْุฑู‡ ู…ِู†ْ ูƒُู„ّ ู…َุงุฆِุน ูَูŠُุญَุฑِّูƒู‡ُ ، ุฒَุงุฏَ ุงِุจْู† ุฏُุฑُุณْุชَูˆَูŠْู‡ِ : ุดَุฑِุจَ ุฃَูˆْ ู„َู…ْ ูŠَุดْุฑَุจ . ูˆَู‚َุงู„َ ุงِุจْู† ู…َูƒِّูŠّ : ูَุฅِู†ْ ูƒَุงู†َ ุบَูŠْุฑ ู…َุงุฆِุน ูŠُู‚َุงู„ ู„َุนِู‚َู‡ُ . ูˆَู‚َุงู„َ ุงู„ْู…ُุทَุฑِّุฒِูŠّ : ูَุฅِู†ْ ูƒَุงู†َ ูَุงุฑِุบًุง ูŠُู‚َุงู„ ู„َุญِุณَู‡ُ

  ๐Ÿ“Œ         Ini adalah istilah yang sudah terkenal secara bahasa, dikatakan: walagha – yalaghu,  dengan difathahkan pada keduanya, artinya minum dengan ujung lidahnya, atau dia memasukan lidahnya padanya lalu menggerak-gerakannya. Berkata Ats Tsa’lab: yaitu memasukan lidahnya ke dalam air dan selainnya dari semua benda cair, lalu dia menggerak-gerakannya.  Ibnu Durustawaih menambahkan: baik dia minum atau tidak minum.  Berkata Ibnu Makki: “Jika dia menjilatnya pada sesuatu yang cair (padat) itu disebut la’iqa.” Al Mutharrizi berkata: “Jika dia menjilatnya pada sesuatu yang kosong maka itu disebut lahisa.” (Fathul Bari, 1/274. 1379H. Darul Ma’rifah, Beirut)


๐Ÿ“‹2⃣ . Hadits ini menunjukkan najisnya liur anjing, dan ini menjadi pandangan jumhur (mayoritas) ulama. Bahkan sebagian ulama ada yang mengkategorikannya sebagai najis mughallazhah (najis berat)


            Hal ini sangat jelas, yakni ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa sucinya bejana yang airnya telah diminum oleh anjing adalah dengan cara dicuci tujuh kali dan yang pertamanya dicampur dengan tanah, itu menunjukkan batas antara suci dan najis. Najisnya ketika anjing minum di dalamnya, dan sucinya ketika dibersihkan tadi.


           Namun, pada kenyataannya para imam kaum muslimin berbeda pendapat tentang kenajisan anjing. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok besar.


1⃣ Pertama, yang menyatakan bahwa seluruh tubuh Anjing adalah najis, luar maupun dalam. Inilah pandangan Imam Asy Syafi’i, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya.

2⃣ Kedua, yang menyatakan bahwa najisnya Anjing adalah hanya liurnya saja, anggota tubuh yang lain adalah suci. Inilah pandangan  jumhur (mayoritas) ulama, dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,  Imam Asy Syaukani,  Syaikh Sayyid Sabiq dan lain-lain.

3⃣ Ketiga, yang menyatakan seluruhnya adalah suci termasuk air liurnya. Inilah pandangan Imam Malik, dan diikuti oleh  Syaikh Yusuf Al Qaradhawi.

Mari kita lihat alasan masing-masing kelompok.

๐Ÿ”ถKelompok pertama. Mereka berargumen dengan hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅِุฐَุง ุดَุฑِุจَ ุงู„ْูƒَู„ْุจُ ูِูŠ ุฅِู†َุงุกِ ุฃَุญَุฏِูƒُู…ْ ูَู„ْูŠَุบْุณِู„ْู‡ُ ุณَุจْุนَ ู…َุฑَّุงุชٍ

๐Ÿ“Œ“Jika Seekor Anjing minum di bejana kalian, maka cucilah tujuh kali.”    (HR. Bukhari No. 172, Muslim No. 279, 90, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 288, Malik dalam Al Muwaththa’ No. 65, menurut Riwayat Yahya Al Laits. Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 536, Al Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan wal AatsarNo. 467)

Sementara dari jalur Abu Hurairah lainnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุทَู‡ُูˆุฑُ ุฅِู†َุงุกِ ุฃَุญَุฏِูƒُู…ْ ุฅِุฐَุง ูˆَู„َุบَ ูِูŠู‡ِ ุงู„ْูƒَู„ْุจُ ุฃَู†ْ ูŠَุบْุณِู„َู‡ُ ุณَุจْุนَ ู…َุฑَّุงุชٍ ุฃُูˆู„َุงู‡ُู†َّ ุจِุงู„ุชُّุฑَุงุจِ

๐Ÿ“Œ“Sucinya bejana kalian jika seekor Anjing minum di dalamnya adalah dengan mencucinya tujuh kali, dan yang  pertamanya dengan tanah.”   (HR. Muslim No. 279, 91 , Ahmad No. 9511, Ad Daruquthni, 1/64, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 1840, 37395, Abu ‘Uwanah No. 540)

Hadits ini menunjukkan bahwa liur anjing adalah najis berat. Jika yang diminum adalah airnya, lalu kenapa yang diperintah untuk dicuci juga bejananya? Bukankah cukup dengan dibuang saja airnya? Padahal bejananya tidak dijilat, hanya airnya saja yang kena.  Perintah untuk mencuci sampai tujuh kali bejana menunjukkan kenajisannya, sebab jika memang suci, pastilah tidak akan ada perintah tersebut. Demikian alasan mereka.

Selain itu mereka juga mengqiyaskan bahwa najisnya liur, menunjukkan najisnya seluruh tubuh anjing. Lagi pula anjing punya kebiasaan menjilat-jilat tubuhnya, sehingga tubuhnya terbungkus oleh liurnya yang najis.

Berkata Imam Ash Shan’ani Rahimahullah ketika mengomentari hadits di atas:

ูˆَู‡ُูˆَ ุธَุงู‡ِุฑٌ ูِูŠ ู†َุฌَุงุณَุฉِ ูَู…ِู‡ِ ، ูˆَุฃُู„ْุญِู‚َ ุจِู‡ِ ุณَุงุฆِุฑُ ุจَุฏَู†ِู‡ِ ู‚ِูŠَุงุณًุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ، ูˆَุฐَู„ِูƒَ ؛ ู„ِุฃَู†َّู‡ُ ุฅุฐَุง ุซَุจَุชَ ู†َุฌَุงุณَุฉُ ู„ُุนَุงุจِู‡ِ ، ูˆَู„ُุนَุงุจُู‡ُ ุฌُุฒْุกٌ ู…ِู†ْ ูَู…ِู‡ِ ، ุฅุฐْ ู‡ُูˆَ ุนِุฑْู‚ُ ูَู…ِู‡ِ ، ูَูَู…ُู‡ُ ู†َุฌِุณٌ ، ุฅุฐْ ุงู„ْุนِุฑْู‚ُ ุฌُุฒْุกٌ ู…ُุชَุญَู„ِّุจٌ ู…ِู†ْ ุงู„ْุจَุฏَู†ِ ، ูَูƒَุฐَู„ِูƒَ ุจَู‚ِูŠَّุฉُ ุจَุฏَู†ِู‡ِ

๐Ÿ“Œ“Secara zhahir, mulutnya pun najis. Ketika dia menjilati seluruh badannya maka itu menjadi qiyas atasnya. Hal itu karena  sudah pasti najisnya liur anjing, dan liur merupakan bagian dari mulutnya. Ketika mulutnya berkeringat maka mulutnya juga najis. Jika keringat bagian yang keluar dari badan, maka demikian juga anggota badan lainnya (juga najis).”    (Subulus Salam, 1/22. Maktabah Mushthafa Al Baabiy Al Halabiy)

๐Ÿ”ถKelompok kedua. Inilah jumhur (mayoritas). Mereka mengakui bahwa liur anjing adalah najis, tetapi anggota tubuh lainnya adalah suci. Dalil kelompok ini berdasarkan hadits-hadits di atas juga, yang menunjukkan kenajisan anjing dikaitkan dengan air liurnya. Selain itu, sebagaimana tertera dalam Shahih Al Bukhari, pada masa lalu anjing lalu lalang di masjid nabi tetapi mereka tidak diusir dan tidak pula dibersihkan bekas tapak kaki mereka.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ุงู„ูƒู„ุจ: ูˆู‡ูˆ ู†ุฌุณ ูˆูŠุฌุจ ุบุณู„ ู…ุง ูˆู„ุบ ููŠู‡ ุณุจุน ู…ุฑุงุช، ุฃูˆู„ุงู‡ู† ุจุงู„ุชุฑุงุจ

๐Ÿ“Œ“Anjing, dia najis dan wajib mencuci apa-apa yang dijilatnya sebanyak tujuh kali dan yang pertamanya dengan tanah.” (lalu beliau menyebutkan hadits di atas) Tetapi beliau juga berkata:

ุฃู…ุง ุดุนุฑ ุงู„ูƒู„ุจ ูุงู„ุงุธู‡ุฑ ุฃู†ู‡ ุทุงู‡ุฑ، ูˆู„ู… ุชุซุจุช ู†ุฌุงุณุชู‡.

๐Ÿ“Œ“Adapun bulu anjing, yang benar adalah suci tidak ada dalil yang kuat yang menyebutnya najis.”   (Fiqhus Sunnah, 1/29. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menguatkan pendapat ini, katanya:

ุฃَู…َّุง ุงู„ْูƒَู„ْุจُ ูَู„ِู„ْุนُู„َู…َุงุกِ ูِูŠู‡ِ ุซَู„َุงุซَุฉُ ุฃَู‚ْูˆَุงู„ٍ ู…َุนْุฑُูˆูَุฉٍ : ุฃَุญَุฏُู‡َุง : ุฃَู†َّู‡ُ ู†َุฌِุณٌ ูƒُู„ُّู‡ُ ุญَุชَّู‰ ุดَุนْุฑُู‡ُ ูƒَู‚َูˆْู„ِ ุงู„ุดَّุงูِุนِูŠِّ ูˆَุฃَุญْู…َุฏ ูِูŠ ุฅุญْุฏَู‰ ุงู„ุฑِّูˆَุงูŠَุชَูŠْู†ِ ุนَู†ْู‡ُ . ูˆَุงู„ุซَّุงู†ِูŠ : ุฃَู†َّู‡ُ ุทَุงู‡ِุฑٌ ุญَุชَّู‰ ุฑِูŠู‚ُู‡ُ ูƒَู‚َูˆْู„ِ ู…َุงู„ِูƒٍ ูِูŠ ุงู„ْู…َุดْู‡ُูˆุฑِ ุนَู†ْู‡ُ . ูˆَุงู„ุซَّุงู„ِุซُ : ุฃَู†َّ ุฑِูŠู‚َู‡ُ ู†َุฌِุณٌ ูˆَุฃَู†َّ ุดَุนْุฑَู‡ُ ุทَุงู‡ِุฑٌ ูˆَู‡َุฐَุง ู…َุฐْู‡َุจُ ุฃَุจِูŠ ุญَู†ِูŠูَุฉَ ุงู„ْู…َุดْู‡ُูˆุฑُ ุนَู†ْู‡ُ ูˆَู‡َุฐِู‡ِ ู‡ِูŠَ ุงู„ุฑِّูˆَุงูŠَุฉُ ุงู„ْู…َู†ْุตُูˆุฑَุฉُ ุนِู†ْุฏَ ุฃَูƒْุซَุฑِ ุฃَุตْุญَุงุจِู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ุฑِّูˆَุงูŠَุฉُ ุงู„ْุฃُุฎْุฑَู‰ ุนَู†ْ ุฃَุญْู…َุฏ ูˆَู‡َุฐَุง ุฃَุฑْุฌَุญُ ุงู„ْุฃَู‚ْูˆَุงู„ِ .

๐Ÿ“Œ“Adapun anjing, para ulama kita terbagi atas tiga pendapat: Pertama. Bahwa anjing najis seluruhnya termasuk bulunya, inilah pendapat Asy Syafi’i dan Ahmad dalam salah satu riwayat darinya. Kedua. Bahwa anjing adalah suci termasuk liurnya inilah pendapat yang masyhur (terkenal) dari Malik. Ketiga. Bahwa liurnya adalah najis, dan bulunya adalah suci, inilah madzhab yang masyhur dari Abu Hanifah, dan inilah riwayat yang didukung oleh mayoritas pengikutnya, dan inilah riwayat lain dari Ahmad. Inilah pendapat yang lebih kuat.” (Majmu’ Fatawa, 21/616. Cet. 3, 2005M-1426H. Darul Wafa’)

Beliau juga berkata:

ูَุฃَุญَุงุฏِูŠุซُู‡ُ ูƒُู„ُّู‡َุง ู„َูŠْุณَ ูِูŠู‡َุง ุฅู„َّุง ุฐِูƒْุฑُ ุงู„ْูˆُู„ُูˆุบِ ู„َู…ْ ูŠَุฐْูƒُุฑْ ุณَุงุฆِุฑَ ุงู„ْุฃَุฌْุฒَุงุกِ ูَุชَู†ْุฌِูŠุณُู‡َุง ุฅู†َّู…َุง ู‡ُูˆَ ุจِุงู„ْู‚ِูŠَุงุณِ

๐Ÿ“ŒSemua hadits-haditsnya, hanya menunjukkan Al Wulugh (menjilat, meminum), tidak menunjukkan seluruh bagian tubuh. Maka pengharamannya hanyalah qiyas saja.(Ibid,  21/617)  

Beliau menjelaskan pendapat Imam Ahmad bin Hambal dalam masalah bulu anjing. Bahwa ada dua riwayat dari Imam Ahmad Rahimahullah, demikian katanya:

ุฅุญْุฏَุงู‡ُู…َุง : ุฃَู†َّู‡ُ ุทَุงู‡ِุฑٌ ูˆَู‡ُูˆَ ู…َุฐْู‡َุจُ ุงู„ْุฌُู…ْู‡ُูˆุฑِ ูƒَุฃَุจِูŠ ุญَู†ِูŠูَุฉَ ูˆَุงู„ุดَّุงูِุนِูŠِّ ูˆَู…َุงู„ِูƒٍ . ูˆَุงู„ุฑِّูˆَุงูŠَุฉُ ุงู„ุซَّุงู†ِูŠَุฉُ : ุฃَู†َّู‡ُ ู†َุฌِุณٌ ูƒَู…َุง ู‡ُูˆَ ุงุฎْุชِูŠَุงุฑُ ูƒَุซِูŠุฑٍ ู…ِู†ْ ู…ُุชَุฃَุฎِّุฑِูŠ ุฃَุตْุญَุงุจِ ุฃَุญْู…َุฏ ูˆَุงู„ْู‚َูˆْู„ُ ุจِุทَู‡َุงุฑَุฉِ ุฐَู„ِูƒَ ู‡ُูˆَ ุงู„ุตَّูˆَุงุจُ .

๐Ÿ“Œ“Riwayat pertama, bahwa itu adalah suci, dan ini adalah madzhab jumhur seperti Abu Hanifah, Asy Syafi’i, dan Malik.  Riwayat kedua, bahwa itu adalah najis, sebagaimana yang dipilih oleh kebanyakan para pengikut Imam Ahmad. Namun, yang menyatakan kesuciannya, maka itulah yang benar.” (Ibid,21/619)

 Bahkan beliau juga menyatakan lebih jauh lagi bahwa bulu babi juga suci.

ูˆَุงู„ْู‚َูˆْู„ُ ุงู„ุฑَّุงุฌِุญُ ู‡ُูˆَ ุทَู‡َุงุฑَุฉُ ุงู„ุดُّุนُูˆุฑِ ูƒُู„ِّู‡َุง : ุดَุนْุฑُ ุงู„ْูƒَู„ْุจِ ูˆَุงู„ْุฎِู†ْุฒِูŠุฑِ ูˆَุบَูŠْุฑُู‡ُู…َุง ุจِุฎِู„َุงูِ ุงู„ุฑِّูŠู‚ِ ูˆَุนَู„َู‰ ู‡َุฐَุง ูَุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ ุดَุนْุฑُ ุงู„ْูƒَู„ْุจِ ุฑَุทْุจًุง ูˆَุฃَุตَุงุจَ ุซَูˆْุจَ ุงู„ْุฅِู†ْุณَุงู†ِ ูَู„َุง ุดَูŠْุกَ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูƒَู…َุง ู‡ُูˆَ ู…َุฐْู‡َุจُ ุฌُู…ْู‡ُูˆุฑِ ุงู„ْูُู‚َู‡َุงุกِ : ูƒَุฃَุจِูŠ ุญَู†ِูŠูَุฉَ ูˆَู…َุงู„ِูƒٍ ูˆَุฃَุญْู…َุฏ ูِูŠ ุฅุญْุฏَู‰ ุงู„ุฑِّูˆَุงูŠَุชَูŠْู†ِ ุนَู†ْู‡ُ : ูˆَุฐَู„ِูƒَ ู„ِุฃَู†َّ ุงู„ْุฃَุตْู„َ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุนْูŠَุงู†ِ ุงู„ุทَّู‡َุงุฑَุฉُ ูَู„َุง ูŠَุฌُูˆุฒُ ุชَู†ْุฌِูŠุณُ ุดَูŠْุกٍ ูˆَู„َุง ุชَุญْุฑِูŠู…ُู‡ُ ุฅู„َّุง ุจِุฏَู„ِูŠู„ِ .

๐Ÿ“Œ“Dan pendapat yang kuat adalah sucinya bulu seluruh hewan: bulu anjing, babi, dan selain keduanya. Sedangkan liur terjadi perbedaan pendapat. Oleh karena itu jika bulu anjing basah dan mengenai pakaian manusia maka tidak mengapa, sebagaiama itu menjadi madzhab jumhur fuqaha: seperti Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad dalam salah satu dari dua riwayat darinya. Hal itu karena asal dari berbagai benda adalah suci, maka tidak boleh menajiskan sesuatu dan mengharamkan kecuali dengan dalil.”    (Ibid, 21/617)

๐Ÿ”ถKelompok ketiga. Kalangan yang mengatakan bahwa semua tubuh anjing adalah suci termasuk liurnya. Inilah pandangan Imam Malik, Imam Daud Azh Zhahiri, dan Imam Az Zuhri. Mereka  beralasan:

ุฅู†َّ ุงู„ْุฃَู…ْุฑَ ุจِุงู„ْุบَุณْู„ِ ู„ِู„ุชَّุนَุจُّุฏِ ู„َุง ู„ِู„ู†َّุฌَุงุณَุฉِ

๐Ÿ“Œ                “Sesungguhnya perintah untuk mencucinya itu bermakna ta’abbud(peribadatan), bukan berarti najis.” (Subulus Salam, 1/22)

                Alasan lain dalam Al Muntaqa Syarh Al Muwatha’ , Imam Abul Walid Sulaiman bin Khalaf Al Baji Rahimahullah menyebutkan:

ูˆَุงู„ุฏَّู„ِูŠู„ُ ุนَู„َู‰ ู…َุง ู†َู‚ُูˆู„ُู‡ُ ุฃَู†َّ ู‡َุฐَุง ุญَูŠَูˆَุงู†ٌ ูŠَุฌُูˆุฒُ ุงู„ِุงู†ْุชِูَุงุนُ ุจِู‡ِ ู…ِู†ْ ุบَูŠْุฑِ ุถَุฑُูˆุฑَุฉٍ ูَูƒَุงู†َ ุทَุงู‡ِุฑًุง ูƒَุงู„ْุฃَู†ْุนَุงู…ِ

๐Ÿ“Œ                “Dalilnya adalah apa-apa yang telah kami sebutkan, bahwa hewan ini boleh dimanfaatkan tanpa alasan terdesak, maka ia termasuk suci sebagaimana hewan ternak.”(Imam Sulaiman bin Khalaf Al Baji, Al Muntaqa Syarh Al Muwatha’, 1/67)

                Dalil lainnya adalah ayat Al Quran yang membolehkan makanan hasil buruan tanpa memerintahkan mencucinya:

ูŠَุณْุฃَู„ُูˆู†َูƒَ ู…َุงุฐَุง ุฃُุญِู„َّ ู„َู‡ُู…ْ ู‚ُู„ْ ุฃُุญِู„َّ ู„َูƒُู…ُ ุงู„ุทَّูŠِّุจَุงุชُ ูˆَู…َุง ุนَู„َّู…ْุชُู…ْ ู…ِู†َ ุงู„ْุฌَูˆَุงุฑِุญِ ู…ُูƒَู„ِّุจِูŠู†َ ุชُุนَู„ِّู…ُูˆู†َู‡ُู†َّ ู…ِู…َّุง ุนَู„َّู…َูƒُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ูَูƒُู„ُูˆุง ู…ِู…َّุง ุฃَู…ْุณَูƒْู†َ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ูˆَุงุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงุณْู…َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุณَุฑِูŠุนُ ุงู„ْุญِุณَุงุจِ (4)

 ๐Ÿ“Œ               “Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang Dihalalkan bagi mereka?". Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat cepat hisab-Nya.” (QS. Al Maidah (5): 4)

                Syaikh Prof. Dr. Yusuf Al Qaradhawy Hafizhahullah mengatakan: “Sedangkan saya sendiri cenderung pada pendapat Imam Malik bahwa semua yang hidup adalah suci. Oleh sebab itulah, dibolehkan bagi kita memakan hasil buruannya. Dan perintah Nabi untuk mencuci apa yang dijilat anjing adalah sesuatu yang ta’abbudi.” (Syaikh Yusuf Al Qarahawy,Fikih Thaharah, Hal. 22. Cet. 1, 2004M. Pustaka Al Kautsar)

                Yang dimaksud ta’abbudi  oleh Imam Malik di sini adalah bahwa perintah tersebut bernilai ibadah yang tanpa harus tahu sebab dan hikmahnya, melainkan terima jadi saja, karena ini masalah peribadatan.

                Berkata Al Ustadz Asy Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah :

ูˆ ุงู„ุฃุตู„ ููŠ ุงู„ุนุจุงุฏุงุช ุงู„ุชุนุจุฏ ุฏูˆู† ุงู„ุงู„ุชูุงุช ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ุนุงู†ูŠ , ูˆููŠ ุงู„ุนุงุฏูŠุงุช ุงู„ุงู„ุชูุงุช ุฅู„ู‰ ุงู„ุฃุณุฑุงุฑ ูˆ ุงู„ุญูƒู… ูˆ ุงู„ู…ู‚ุงุตุฏ

๐Ÿ“Œ                Dasar dari peribadatan adalah ketundukan (ta’abbud) bukan mencari-cari kepada makna-maknanya, sedangkan dasar dari kebiasaan (adat) adalah mengkaji rahasia, hikmah, dan maksud-maksudnya. (Lihat Ushul ‘Isyrin No. 5)

                Demikianlah pembahasan khilafiyah para imam tentang status kenajisan anjing.

๐Ÿ“‹3⃣ . Apakah ini berlaku untuk semua anjing atau tertentu saja?

๐Ÿ”นBersambung๐Ÿ”น
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala...


@



Kamu sedang berada dipostingan Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) - Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1), Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) - Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1), Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) - Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1), Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) - Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1), Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) - Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1), Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) - Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1), Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) - Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1) , Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) - Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1)

0 comments:

Post a Comment - Kembali ke Konten

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) - Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1)